Sabtu, 03 November 2012

Setiap Pertemuan Pasti Ada Perpisahan (tulisan ini terinspirasi dari cerita seseorang)


Oleh : Melisa Widia Putri


      Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku paham akan hal ini, tapi bukanlah perpisahan yang seperti ini yang ku inginkan. Kita bertemu secara baik-baik dan aku juga inginkan perpisahan secara baik-baik juga, bukan perpisahan yang di landasi dengan amarah, dendam, dan kebencian. Jika aku tau akhirnya akan seperti ini, aku lebih memilih untuk tidak bertemu denganmu.  
     Pertemuan pertama begitu mengesankan, sehingga menyisahkan rasa penasaran. Penasaran akan sosok dirimu, hatimu, sikapmu. Keingintahuan yang besar mendorong aku untuk mengenalmu lebih jauh, lebih dekat, dan lebih akrab lagi. 
       Tak banyak waktu yang kita lalui untuk melakukan suatu keterikatan diantara kita. Karena apa? Karena kita merasa bahwa kita sama-sama yakin akan perasaan kita masing-masing. Kita merasa bahwa hati kita sudah memilih. Kita merasa bahwa kita mampu untuk saling menutupi kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kita merasa bahwa kita sanggup untuk menerima pasangan kita apa adanya. 
        Tapi, setelah kita melakukan perjalanan, dengan gamblang kamu katakana bahwa kita sudah tidak bisa untuk bersama lagi, kita sudah tidak bisa untuk saling melengkapi lagi. Mengapa kamu begitu mudahnya untuk mengakhiri semua setelah melewati perjalanan yang cukup jauh. 
       Memang kita memiliki perbedaan yang cukup signifikan, tapi bukankah dengan perbedaan tersebut seharusnya kita bisa menjadi satu, saling melengkapi satu sama lain, saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bukannya malah membuat hubungan yang baru saja dimulai, menjadi renggang dan berujung dengan perpisahan. 
        Dan sekarang, setelah semuanya berakhir tanpa berujung, hanya satu hal yang ku yakini untuk meyakinkan hati ini. Mungkin cinta kita memang tak harus memilki. Cinta ini ada dan tumbuh semakin dalam rasanya. Hati yang masih memilihmu membuatku gundah disaat sepi, membuat ku sedih saat terbayang wajahmu. Ingin rasanya ku menemuimu segera, tapi tak tau harus menemuimu kemana?. Sudah lama tak ada kabar darimu, sehingga aku tak tau keberadaanmu di muka bumi ini, di utarakah, di selatankah, di timurkah, atau dibaratkah. Tapi yang pasti, yang aku tau kamu hanya ada di hatiku. Entah sampai kapan akan memendan rasa ini. Tersiksa sekali rasanya batin ini setiap memikirkanmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar